Menulis Itu Soal Kejelasan, Bukan Kehebatan
Banyak orang tidak jadi menulis bukan karena tidak bisa,
melainkan karena terlalu ingin terlihat pintar.
Padahal, menulis tidak menuntut kita menjadi siapa-siapa.
Ia hanya meminta satu hal sederhana: mau dipahami.
Kalau kamu takut menulis, tenang saja.
Menulis bukan panggung pidato.
Ia lebih mirip obrolan di teras rumah,
dengan kopi yang mulai dingin dan pikiran yang jujur.
Menulis Tidak Perlu Kata-Kata Tinggi
Sering kali kita terjebak pada anggapan:
kalau ingin terdengar cerdas, kalimat harus panjang, istilah harus rumit.
Padahal, pembaca tidak sedang ujian.
Mereka hanya ingin mengerti.
Kalau maksudmu “semua ikan mati”,
katakan saja begitu.
Tidak perlu “respons mortalitas seratus persen”.
Menulis bukan ajang pamer kosakata.
Ia adalah upaya berbagi makna.
Berangkatlah dari Pikiran yang Rapi
Tulisan yang ruwet hampir selalu lahir dari pikiran yang belum selesai.
Sebelum menulis, berhentilah sebentar.
Tanyakan pada diri sendiri:
“Sebenarnya, apa yang ingin aku sampaikan?”
Susun dulu di kepala.
Atau di secarik kertas.
Satu gagasan, satu catatan.
Lalu urutkan. Mana yang harus lebih dulu, mana yang bisa menyusul.
Menulis itu seperti menyusun perjalanan.
Kalau kita sendiri tidak tahu tujuannya,
jangan heran kalau pembaca tersesat.
Pembaca Itu Manusia, Bukan Murid yang Harus Dikuliahi
Menulis yang baik selalu tahu:
di mana posisi pembacanya berdiri.
Jangan menulis terlalu tinggi,
tapi juga jangan merendahkan.
Pembaca bukan anak kecil,
namun juga tidak wajib tahu semua yang kita tahu.
Tujuan menulis bukan membuktikan kepintaran,
melainkan menemani pembaca sampai paham.
Pilih Kata yang Bisa Dibayangkan
Kata yang baik itu seperti jendela.
Begitu dibaca, langsung terlihat gambarnya.
“Keringat mengalir”,
lebih terasa daripada “respon fisiologis akibat aktivitas”.
Kalau pembaca harus menerjemahkan ulang kalimatmu di kepalanya,
berarti kamu belum cukup ramah.
Kalimat Indah Itu Bonus, Bukan Tujuan
Kadang, saat menulis, muncul kalimat yang terasa puitis.
Tidak apa-apa. Simpan.
Tapi tanyakan satu hal penting:
“Apakah ini membantu kejelasan?”
Kalau jawabannya tidak,
ikhlaskan untuk menghapus.
Menulis yang dewasa tahu kapan harus memamerkan keindahan,
dan kapan harus menyingkir demi makna.
Pada Akhirnya…
Menulis dengan jelas bukan soal teknik semata.
Ia soal sikap.
Sikap untuk jujur pada pikiran sendiri.
Sikap untuk menghormati waktu pembaca.
Dan sikap untuk tidak merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Jika tulisanmu membuat orang berkata,
“Oh… begitu maksudnya.”
Maka, di situlah tulisanmu bekerja dengan baik.
Posting Komentar