Menonton Hidup Lewat "Soul"

 



Gusti, manusia itu sering kali lucu sekaligus menyedihkan. Kita ini gemar sekali membuat jebakan Batman untuk diri kita sendiri, lalu setelah terperosok, kita menangis meraung-raung meminta tolong pada Tuhan. Jebakan itu bernama: Ambisi.
Rekomendasi dari anak-anak muda berkelas di podcast itu tidak salah. Film Soul ini seolah-olah diproduksi Pixar khusus untuk menampar jidat kita semua yang sehari-hari sibuk berlari mengejar sesuatu yang kita sebut "puncak sukses".
Kalau ditelisik pakai rasa, ada beberapa pitutur hidup yang disemprotkan film ini tepat ke muka kita:
1. Jabatan dan Bakat Itu Cuma Seragam, Bukan Nyawa
Joe Gardner itu potret kita banget. Dia merasa hidupnya baru sah dan bermakna kalau sudah jadi pianis jazz terkenal. Lha kok jebulnya, begitu dia naik panggung besar dan sukses, batinnya tetap kemrungsung dan hampa. Kita sering begitu, toh? Mengira kalau sudah jadi direktur, jadi artis, atau jadi orang kaya, mendadak seluruh masalah hidup akan selesai dan kita otomatis bahagia. Kleru. Bakat dan karier itu cuma bungkus permen. Kebahagiaan itu isinya. Jangan sampai demi mengejar bungkusnya, isi permennya malah hancur keinjak kaki sendiri.
2. Kesalehan Hidup dalam Daun yang Jatuh
Di film ini, ada jiwa polos bernama 22. Dia mengajari kita ilmu eling—atau istilah keren anak kota sekarang, mindfulness. Saat mengintip bumi, si 22 ini tidak takjub pada gedung pencakar langit atau tepuk tangan penonton konser. Dia justru terpesona oleh sepotong pizza murah, obrolan renyah di tukang cukur, dan selembar daun mapel yang jatuh berputar tertiup angin.
Ini sejalan dengan konsep spiritual kuno: menemukan keindahan Tuhan pada hal-hal sepele. Manusia modern itu menderita karena matanya terlalu sering mendongak melihat bintang di langit, sampai lupa bersyukur kaki mereka masih bisa menginjak rumput bumi yang basah.
3. Celakanya Orang-Orang yang Terlalu Khusyuk
Ada visualisasi yang cerdas di film ini bernama Lost Souls (Jiwa-Jiwa Tersesat). Uniknya, mereka ini bukan penjahat, melainkan orang-orang yang awalnya sangat mencintai hobinya, lalu kebablasan menjadi obsesi. Mereka buta pada sekitar. Sesuatu yang berlebihan itu, bahkan atas nama hobi atau ibadah sekalipun, kalau sudah memutus silaturahmi kita dengan realitas dan rasa kemanusiaan, ya bakal bikin jiwa kita mati rasa. Menjadi hitam, besar, dan menakutkan.
4. Kita Ini Ikan yang Bingung Mencari Air
Ingat adegan Dorothea Williams bercerita tentang ikan muda yang berenang ke sana kemari mencari yang namanya "Samudra"? Begitu diberi tahu oleh ikan tua bahwa air di sekelilingnya itulah samudra, si ikan muda malah kecewa karena mengira samudra adalah sesuatu yang megah nan dahsyat. Kita ini persis ikan bodoh itu. Kita sibuk meratap mencari kebahagiaan fiktif di masa depan, padahal nikmat napas, nikmat sehat, dan nikmat kopi hangat di depan mata saat ini adalah "samudra" kebahagiaan yang sedang kita selami.

Hidup ini bukan soal garis finish. Di akhir film, Joe Gardner mendapat kesempatan hidup kedua. Apakah dia langsung punya target jadi musisi nomor satu dunia? Tidak. Dia cuma bilang: "Aku tidak tahu pasti, tapi aku akan menikmati setiap momennya."
Nah, mumpung filmnya belum Anda tonton, coba nanti siapkan kuota Disney+ Hotstar-nya dulu.
Jika sudah siap menonton, apakah Anda ingin saya buatkan panduan ringkas tanpa bocoran (spoiler-free) agar Anda bisa lebih menghayati adegan demi adegan filosofisnya nanti?