Menulis 3 : Cara Mengembalikan Fokus Saat Pikiran Berantakan




Kadang malam memang menjadi tempat paling ramai bagi pikiran.

Tubuh sudah lelah, suasana mulai sunyi, tetapi kepala justru terasa penuh.
Tanggungan pekerjaan belum selesai. Disertasi masih harus dibaca ulang, dicek lagi, diperbaiki lagi. Sebentar lagi ujian tertutup, tetapi fokus justru terasa mudah pecah.

Aneh memang.

Kita tahu apa yang harus dikerjakan, tetapi pikiran seperti berjalan ke mana-mana. Baru membuka file revisi, tiba-tiba teringat komentar dosen. Lalu ingat sidang. Ingat kekurangan. Ingat kemungkinan terburuk. Bahkan kadang tangan refleks ingin membuka media sosial, padahal hati sebenarnya tahu itu hanya pelarian sesaat.

Mengapa bisa begitu?

Karena otak manusia memang tidak dirancang untuk tenang terus-menerus di bawah tekanan panjang.
Apalagi ketika sedang berada di fase penting seperti revisi disertasi dan persiapan sidang.

Otak manusia menyukai hal-hal baru. Sistem dopamin di dalamnya terus mencari distraksi kecil: notifikasi, video pendek, percakapan, atau sekadar pindah aktivitas. Di saat yang sama, kapasitas perhatian manusia juga terbatas. Ketika terlalu banyak hal dipikirkan sekaligus, pikiran mengalami semacam penumpukan mental (cognitive overload). Akibatnya, fokus menjadi mudah retak.

Belum lagi pikiran manusia bekerja secara asosiatif.
Satu pikiran bisa memancing pikiran lain.

Sedang membaca revisi → teringat dosen penguji → teringat sidang → teringat ekspektasi → teringat masa depan.

Dan akhirnya kepala terasa penuh sendiri.

Karena itu, fokus sebenarnya bukan keadaan tanpa gangguan.
Fokus adalah kemampuan untuk kembali.

Kembali ke halaman yang sedang dibaca.
Kembali ke napas.
Kembali ke pekerjaan utama.

Bukan memaksa pikiran diam.

Saya pernah mendapatkan satu latihan dari pelatihan menulis bersama AS Laksana, yaitu metode Meditasi Vipassana.

Vipassana bukan sekadar teknik relaksasi. Ia adalah latihan untuk melihat pikiran sebagaimana adanya. Dalam praktiknya, kita belajar mengamati napas, tubuh, emosi, dan lalu-lalang pikiran tanpa buru-buru bereaksi.

Menariknya, saat mulai berlatih, pikiran justru sering terasa makin berisik.
Bukan karena kita gagal tenang, tetapi karena untuk pertama kalinya kita benar-benar menyadari betapa ramai isi kepala kita selama ini.

Dan mungkin memang itu yang sedang terjadi.

Bukan berarti lemah.
Bukan berarti tidak siap sidang.
Tetapi karena pikiran sedang bekerja terlalu keras terlalu lama.

Kadang yang dibutuhkan bukan memaksa diri lebih keras, melainkan memberi ruang agar pikiran bisa bernapas sebentar.

Duduk tenang beberapa menit.
Menjauh dari media sosial.
Mengamati napas perlahan.
Saat pikiran pergi ke mana-mana, tidak perlu dimarahi.
Cukup disadari, lalu kembali lagi.

Begitu terus.

Karena pada akhirnya, ketenangan bukan tentang tidak punya pikiran.
Melainkan kemampuan untuk tidak tenggelam di dalamnya.